Visi Misi Mi Mlilir

 VISI  MISI MI MLILIR

 Visi

”BERAKHLAKUL KARIMAH DAN BERILMU
PENGETAHUAN LUAS”

 Indikator Visi

  1. Berperilaku sesuai dengan ajaran Islam yang berdasarkan al-Quran dan Hadist
  2. Peningkatan kesadaran dalam beribadah
  3. Memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan
  4. Menghasilkan lulusan yang siap melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi
  5. Berprestasi dalam akademis maupun non akademis

Misi

  1. Menjadikan nabi Muhammad sebagai uswatun khasanah
  2. Melaksanakan kewajiban Islam dalam kehidupan sehari-hari
  3. Menerapkan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Melaksanakan pembelajaran yang efektif
  5. Memberikan bimbingan yang optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa.

Tujuan

  1. Mampu membaca Al-Quran dengan benar dan tartil
  2. Mampu menerapkan kewajiban Islam dalam kehidupan sehari-hari
  3. Tercapainya KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)
  4. Meraih prestasi Akademis dan Non Akademis
  5. Mampu mewujudkan kecintaan dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan
  6. Mewujudkan pendidikan berstandar Nasional yang meliputi kurikulum, pembelajaran kesiswaan, sarana, keuangan dan SDM.
  7. Menghasilkan lulusan yang dapat diterima di MTs Negeri atau SMP Negeri;
  8. Mengoptimalkan proses pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning), antara lain CTL, PAIKEM, serta layanan bimbingan dan konseling;

Perjalanan Pendidikan Madrasah

LEMBAGA PENDIDIKAN AWAL ISLAM

Lembaga-lembaga Islam klasik yang berawal dari permulaan Islam telah mewarnai kebesaran Islam dalam sejarahnya. Berawal dari kuttab, khalaqoh, setelah itu masjid biasa atau masjid khan, semuanya berkembang dengan melewati proses dari kebutuhan umat untuk mendalami keagamaan dan juga ilmu pengetahuan.

Lembaga pendidikan Islam klasik berawal dari kebutuhan umat untuk saling bertukar pemikiran, bertukar syair, menyampaikan ide dan sebagai tempat bertanya. Dengan tempat sederhana, dari rumah ke rumah, dan kemudian menetap di masjid sebagai tempat belajar. Yang kemudian terbentuk masjid khan dengan cirinya terdapat asrama bagi murid-murid yang belajar.

Dengan masjid khan ini sebetulnya pendidikan Islam telah mencapai zaman keemasan. Berbagai terjemahan secara besar-besaran telah dilakukan pada masa ini ke dalam bahasa Arab. Namun, dengan adanya perang salib dalam beberapa tahap telah menghancurkan sumber keilmuan Islam saat itu.

Baru setelah itu ide tentang madrasah muncul, ketika kegiatan belajar di masjid ini dirasa tidak maksimal. Berawal dari ide Nizham Al-Mulk, Madrasah dijadikan tempat pendidikan dengan lebih sempurna. Berbagai ilmu pengetahuan diajarkan dalam madrasah ini. Madrasah pertama yaitu Madrasah Nizamiyah pada tahun 457 H di Nisyapur.

Perkembangannya madrasah ini berlangsung sangat pesat. Banyak daerah-daerah yang lain ikut mendirikan madrasah sebagai tempat pendidikan. Semua kegiatan pendidikan dipusatkan di madrasah ini. Dan pada periode akhirnya akan membentuk lembaga pendidikan yang lebih tinggi yaitu universitas.

Lembaga pendidikan selain madrasah yang cukup berpengaruh adalah lembaga-lembaga sufi yang mulai nampak pada abad 4 H. Masing-masing kelompok sufi ini telah memiliki banyak murid dan pengikut.

Berdasarkan uraian singkat diatas, lembaga pendidikan Islam Klasik, telah banyak memberi warna baru dalam peradapan Islam. Dalam bentuk yang sederhana, lembaga-lembaga ini telah banyak menghasilkan tokoh-tokoh besar di zamanya. Kebesaran Islam dengan periode klasiknya, telah membuktikan bahwa Islam telah banyak berusaha untuk tampil secara maksimal sebagai agama yang sempurna.

Sejarah Madrasah

Sejarah permulaan lembaga pendidikan pada masa nabi Muhammad ini lebih ditampakkan bentuk perjuangannya dalam menyampaikan syariat Islam. Setelah wahyu pertama turun, Muhammad melakukan pendekatan secara personal. Dalam tahap berikutnya Muhammad menyampaikan pengetahuan barunya ini dengan sembunyi-sembunyi kepada sahabat-sahabat dekatnya. Secara berangsur-angsur ajakan Muhammad ini mulai meluas. Dengan bertambahnya orang-orang yang mau menerima ajakan ini, membuat Muhammad menyediakan waktu dan tempat untuk  memberi pelajaran pada mereka. Pada akhirnya pendidikan awal yang dibawa Muhammad ini berpusat di rumah Arqam bin Abi Arqam.[1]

Satu bentuk lembaga yang tidak resmi ini, telah menjadi pusat berkumpul para sahabat untuk mengkaji lebih jauh ayat-ayat Al-Quran yang turun. Walaupun, menghadapi tantangan besar orang Quraisy, para sahabat tetap disuruh untuk menulis, membaca (Kuttab) dan menghafalkan ayat-ayat Al-Quran. Muhammad juga menyampaikan penjelasan terhadap ayat Al-Quran yang diturunkan Allah. Keadaan ini berjalan sampai saat nabi hijrah ke Madinah.

Pernah suatu saat Muhammad mengumpulkan orang-orang Quraisy untuk menyampaikan pengetahuan barunya, orang Arab mengelilingi Nabi dalam bentuk lingkaran (Halaqah), Nabi mengajak agar mereka bisa menerima kepercayaaan baru ini. Media belajar dengan halaqah (melingkar) dikemudian hari menjadi bagian tersendiri dari lembaga pendidikan Islam. Demikian juga dapat ditemui ketika Nabi sudah hijrah ke Madinah. Walaupun, tempat belajarnya di Madinah lebih banyak dilakukan di Masjid.

Pendidikan yang ada di Madinah, lebih terbuka tanpa tantangan yang berarti seperti ketika masih di Mekah. Masjid sebagai tempat utama belajar, membuahkan pendidikan lebih terarah, sehingga menjadikan masjid sebagai lembaga pendidikan yang terbentuk dengan sendirinya.  Peranan masjid ini lebih jelas fungsinya sebagai gedung pendidikan, dan menjadi lembaga pendidikan yang terus berjalan sampai Nabi meninggal dunia. Bahkan, Khulafaur Rosyidin juga meneruskan masjid sebagai lembaga pendidikan sebagi pusat semua kegiatan untuk menimba ilmu pengetahuan.

Perkembangan lembaga pendidikan ini terus bergulir, diantaranya lembaga pendidikan yang terbentuk adalah :

  1. Kuttab

Kuttab atau maktab berasal dari kata kataba yang artinya menulis atau tempat menulis. Kuttab disini disamakan sebagai lembaga pendidikan yang setingkat dengan sekolah dasar. Keberadaannya telah dikenal sebelum datangnnya Islam, yaitu sebagai tempat belajar untuk membaca dan menulis. Hal ini terbukti ketika Islam mulai merasuk dalam kehidupan bangsa Arab, telah ada 17 orang Quraisy yang mampu membaca dan menulis Al-Quran.[2]

Kuttab dalam beberapa pendapat mengartikan sebagai tempat untuk belajar bagi anak-anak untuk belajar Al-Quran dan isinya. Kuttab adalah lembaga pendidikan untuk para pelajar yang berjalan dalam waktu yang lama. Dengan kuttab ini diperkenalkan bagaimana cara tulis-baca pada puisi atau Al-Quran. Dua hal ini memiliki perbedaan, yaitu kuttab untuk baca-tulis puisi ditempatkan dan waktu tersendiri. Untuk baca-tulis puisi pada awal Islam cenderung mengambil guru dari non-muslim. Setelah memiliki dasar baca-tulis sendiri barulah Islam membuka lebar pendidikan kuttab dengan guru-guru yang berasal dari Islam sendiri. Berkaitan dengan baca-tulis Al-Quran, Islam pada saat itu menempatkan orang yang betul-betul Muslim dan sudah pandai baca tulis.

Berawal dari perbedaan ini dapat menjadi bukti, bahwa kuttab berkembang pesat sejak awal sampai perjalanan sejarah peradaban Islam berjalan menyesuaikan budaya setempat. Dengan lembaga pendidikan kuttab ini, sejarah mencatat begitu semangatnya Islam menganjurkan umatnya untuk dapat membaca dan menulis. Sampai pada perhitungan murid yang masuk di kuttab Abu Al-Qosim mencapai 3000 murid.[3] Sekolah dasar (kuttab) ini berdiri pada awal-awal hijrah ke Madinah, berada di daerah Kufah. Dalam perkembangannya bermunculan kuttab-kuttab di berbagai tempat, seperti : Palermo yang memiliki 300 guru dengan ribuan murid dan tersebar dalam banyak kuttab.

Pada abad pertama hijriyah ini sebetulnya kuttab telah menjadi satu bentuk lembaga pendidikan yang memberikan jawaban atas berbagai pengetahuan umat Islam. Dengan bertambahnya kuttab tentunya materi pengajaran pun juga mulai berkembang lebih meluas. Sehingga, setelah sekian lama kuttab ini menjadi  perantara untuk membaca tulis Al-Quran, lambat laun berkembang menjadi lembaga pendidikan formal yang mengajarkan banyak materi pelajaran.

Lembaga kuttab ini adalah satu bentuk lembaga dari pendidikan dasar, sehingga ada yang berpendapat bahwa kuttab ini sebagai bentuk lembaga pendidikan baca tulis Al-Quran bagi anak-anak. Tetapi, bagi yang telah lulus kuttab dapat dikatakan sudah cukup bekal untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. Sebagai penjabarannya bahwa lembaga pendidikan Islam klasik tidak digambarkan adanya pendidikan menengah. Namun, pendidikan dasar (kuttab) dan pendidikan tinggi yaitu di madrasah atau di masjid.[4]

Lembaga-lembaga pendidikan selain kuttab, juga muncul dalam bentuk-bentuk yang lain. terlebih lagi ketika masa bani Umayah, pendidikan juga terlaksana di rumah-rumah, masjid dan di istana-istana kerajaan.[5] Pendidikan juga berlangsung di kediaman kaum bangsawan atau kelompok elit ini menghadirkan guru-guru dari luar istana, dan diberi tempat di istana untuk lebih mendekatkan pada anak-anak mereka. Guru-guru yang berada di istana ini disebut muaddib (adab : budi pekerti). Mereka diharuskan mendidik anak-anak istana dengan melahirkan budi pekerti yang luhur.[6]

Pendidikan yang berlangsung di rumah-rumah dididik oleh orang tuannya sendiri. Dengan materi pelajaran utamanya adalah Al-Quran. Keadaan ini menjadikan lebih berkembangnya bagaimana cara membaca dan menulis. Sehingga hal ini menjadi akariyah yang kuat pada lembaga-lembaga pendidikan yang akan bertebaran pada periode sesudahnya.

Periode selanjutnya adalah zaman keemasan Islam yaitu masa Bani Abbasiyah (750-1242 M). Pada periode inilah berkembang dan memuncaknya ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Perpustakaan yang besar-besar didirikan, banyak tokoh-tokoh Islam yang menjermahkan buku-buku dengan bahasa lain. Masa ini sudah dapat dijumpai toko-toko kitab, majelis kesusasteraan, dan pada periode inilah nantinya muncul adanya lembaga madrasah. Lebih tepatnya madrasah mulai lahir secara besar-besaran yaitu ketika mulai hilangnya pengaruh Persia pada pemerintahan Bani Abasiyah.[7]

  1. Khalaqah dalam Masjid

Halaqah ini mulai muncul sebagai media belajar yang lebih berkembang dari lembaga pendidikan dengan kuttab. Lembaga pendidikan atau tempat belajar ini berlangsung di masjid-masjid, dan ciri utamanya adalah dengan lesehan dalam bentuk melingkar.

Pendidikan yang bertempat tinggal di masjid ini, sebetulnya sudah mulai ada sejak nabi hijrah ke Madinah. Di masjid ini menjadi tempat belajar Al-Quran, bermusyawarah, tempat menyampaikan pengetahuan keagamaan dan informasi-informasi lainnya. Masjid lebih nampak sebagai pengembangan ilmu pengetahuan  ketika masa Bani Umaiyah. Daerah-daerah Arab yang lain, telah banyak Masjid-masjid mulai didirikan. Hampir semua masjid yang ada, digunakan untuk pendidikan dengan halaqah untuk menyampaikan pelajaran. Guru yang mengajar sistem khalaqah ini disebut syaikh, dan murid-murid mendengarkan penyampaian materi dan diberi kesempatan bertanya.

Bahkan, di kemudian hari dibentuk masjid khan, yaitu masjid dengan tempat pemondokan atau asrama sebagai tempat berdiam bagi siapapun yang ingin belajar di masjid. Pada masa bani Abasiyah, masjid khan ini berkedudukan lebih tinggi daripada masjid biasa, karena masjid khan berdiri untuk tujuan pendidikan, tetapi tidak melepaskan fungsinya sebagai tempat ibadah. Masjid khan merupakan jawaban atas kewajiban umat untuk menuntut ilmu, sehingga saat itu banyak masjid khan yang didirikan. Gubernur Badr bin Hasanawayh Al-Kurdi (405-1014) telah membangun sebanyak 3000 masjid khan yang bertebaran di seluruh wilayah Baghdad.

Pendidikan yang berlangsung di masjid khan ini termasuk sebagai pendidikan perguruan tinggi. Mahasiswa yang berasal dari luar daerah disediakan tempat asrama atau pemondokan (khan). Sistem belajar sebetulnya tidak jauh dari cara-cara yang ada dalam masjid biasa yaitu khalaqah. Namun, setiap tahap pembelajaran lebih bervariasi kebebasan setiap pelajar untuk memilih khalaqah yang diinginkannya dan bebas pula untuk melakukan perdebatan.[8]

Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan ini membuat banyak kalangan mengkhawatirkan keberadaan masjid sebagai tempat ibadah. Pertimbangan kemudian, lembaga pendidikan dalam masjid ini harus digantikan dengan lembaga lain. Saat-saat inilah akhirnya ada fenomena besar yaitu terbentuknya madrasah.

Lembaga Pendidikan Madrasah

Lembaga pendidikan berkembang dalam setiap waktu dengan menyesuaikan ide-ide kecerdasan para pemikir Islam. Lembaga ini berawal dari kebutuhan tempat yang luas, dan juga untuk mempermudah membedakan setiap tahapan ilmu pengetahuan yang sudah digeluti. Kajian ilmiah dan berbagai penemuan membutuhkan tempat yang luas untuk belajar. Dan juga kegiatan pendidikan di masjid telah mengurangi fungsi utama sebagai tempat beribadah umat Islam.

Dengan pertimbangan inilah lembaga pendidikan madrasah mulai berdiri. Madrasah ini menjadi penyatu dari masjid biasa dan masjid khan. Kompleks madrasah terdiri dari ruang belajar, ruang pemondokan, dan masjid. Sebagai orang yang berjasa besar terhadap pendidikan madrasah adalah Nizham Al-Mulk. Dialah yang telah mempopolerkan pendidikan madrasah bersamaan dengan reputasinya sebagai wazir dalam kekuasaan saljuk (Dinasti Salajikoh).

Madrasah yang pertama yaitu Madrasah Nizamiyah pada tahun 457 H. Dalam pendapat yang lain sebetulnya, sebelum dinasti Salajikoh ini di Nisyapur telah ada istilah madrasah. Namun, dimasa Saljuk inilah madrasah mulai dipakai banyak daerah untuk melaksanakan pendidikan. Dalam perkembangannya banyak lembaga-lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah bermunculan. Mulai madrasah Abu Hanifah (459 H) di Baghdad, Madrasah Al-Mustashiriyah (Bahdad), dan madrasah Al-Manshuriyah di Kairo.

Perkembangan pada masa Turki Saljuk (Dawlah Salajiqah) di Turki, madrasah berkembang besar mencapai puncak pendidikan dengan berbagai literatur. Banyak ilmuan Islam lahir dari madrasah ini. Setiap tahap pendidikan dilalui dengan evaluasi, dan perencanaan yang mendalam.

Lembaga ini berkembang subur pada dibawah kekuasaan kerajaaan Sunni. Mereka juga menjalin hubungan politik dengan dinasti Salajiqoh. Sultan Saljuk menganggap khanqah sebagai pusat pendidikan agama disamping telah ada lembaga madrasah. Sultan Saljuq juga memberikan tanah wakap pada mereka, sebagaimana telah diberikan kepada madrasah.


[1] Drs. Zuhairini dkk., Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1997, hlm. 22

[2] Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Kajian atas Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam, Bandung, Mizan, 1994, hlm. 25

[3] Ibid hal. 28

[4] Ibid.

[5] Drs. Mansur, M.A., Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta, Global Pustaka Utama, 2004, hal. 90

[6] Prof. Dr. Ahmad Sjalaby, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Bintang Pelajar, 1973, hal. 48

[7] Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, PT Hidayah Agung, 1963, hal. 69

[8] DR. H. Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta, Logos, 2000, hal. 55

AD/ART MI MLILIR